Thursday, July 17, 2008

12 KUNCI KEBERHASILAN PEMIMPIN GEREJA

Pendahuluan

Gereja Tuhan di planet bumi ini sedang memasuki abad dua puluh satu : suatu zaman yang akan sarat perubahan-perubahan dahsyat yang kecepatannya luar biasa, penuh dadakan, dan pasti bermuatan tantangan dalam jumlah besar.
Dalam pemahaman teologi Alkitabiah, gereja sedang menghadapi suatu era yang dalam eskatologi, disebut sebagai akhir dari zaman akhir atau zaman terakhir. Pada zaman terakhir yang sangat krusial dan kritis ini, justru gereja akan mencapai babak kesempurnaannya, melalui pertumbuhan, kebangunan dan pemulihan yang fantastik dan transformatif menurut agenda Tuhan yang dapat kita pelajari dari Alkitab. Suatu tuaian global terbentang di hadapan kita. Suatu dunia yang penuh krisis dan korupsi tengah kita alami.

Karena itu di zaman inilah gereja membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan yang seratus persen mengacu kepada paradigma Alkitab, sehingga rujukan kita untuk menjadi pemimpin-pemimpin gereja, hanyalah murni, Firman Allah dan Roh Kudus yang mahakuasa.
Pada paparan ini, dapat kita simak 12 Prinsip Kepemimpinan Alkitabiah yang menjadi kunci-kunci keberhasilan pemimpin gereja. Tentunya, dengan berkat dan izin Tuhan Yesus Kristus, Raja dan Kepala Gereja.

Prinsip 1 : Pemimpin Gereja dipanggil dan ditetapkan oleh Allah

Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian baru, Alkitab mengggariskan bahwa pemimpin umat Tuhan adalah dipanggil dan ditetapkan oleh Allah :
• Musa dan Yosua (Kel. 3:10, Yosua 1:1-3)
• Saul dan Daud (I Sam. 16:12-13)
• Rasul-rasul (Mark 3:13-18)
• Lima Jawatan Gereja (Ef. 4:11-13)
• Penatua-penatua dan penilik-penilik di jemaat-jemaat lokal (Kis. 14:23, 20:28).
Alkitab menerapkan bahwa pemerintahan gereja bersifat teokratis. Bukan otokratis, bukan birokratis dan bukan pula demokratis.
Dalam sistim teokrasi, Allahlah yang memilih, memanggil dan memperlengkapi orang-orang tertentu menjadi pemimpin dan pemerintah bagi umatNya.
Tuhan juga yang mendelegasikan suatu ukuran otoritas kepada para pemimpin gereja, sesuai kehendakNya, dan untuk melaksanakan tugas-tugas, serta mencapai tujuan-tujuan, dalam kerangka rencanaNya.
Para pemimpin gereja adalah pengabdian memenuhi panggilan, karena itu pemimpin gereja bukanlah suatu profesi, tetapi panggilan pelayanan.
Dalam gereja Tuhan di Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah Kepala Gereja — Gereja atau Jemaat adalah Tubuh Kristus (Efesus 1:22-23) Yesus menjadi pusat atau sentra gereja (Wahyu 5:6, 1:13).
Dia, Kepala dari Gereja – yaitu jemaat yang lintas suku, kaum, bahasa, bangsa, denominasi, segmen dan strata masyarakat. (Galatia 3:28). Gereja yang universal dari semua penjuru dunia ini. (Matius 16:18). Sebagai pelaksana kepemimpinannya dalam gereja universal, Tuhan mendelegasikan fungsi-fungsi kepemimpinan kepada: Rasul-rasul, Nabi-nabi, Penginjil-penginjil, Gembala-gembala, Pengajar-pengajar. (Efesus 4:11). Masing-masing dengan pelayanan khusus. Namun semuanya meraih suatu sasaran : dunia yang diinjili dan gereja yang bertumbuh menjadi sempurna (Efesus 4:12-16), Matius 28:18-20).
Dalam gereja lokal ditetapkan penatua-penatua (presbuteros) dan penilik jemaat (episkopos). Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul menetapkan penatua-penatua (Kisah 14:23, Titus 1:5-9). Paulus juga menyebut penilik jemaat (Kisah 20:28, Filemon 1:1, I Timotius 3:1-7). Juga ada diaken (diákonos) yang menjadi pembantu pimpinan (Kisah 6:4-6, I Timotius 3:8-13). Rasul Yohanes mengaku dirinya sebagai penatua (II Yohanes 1:1, III Yohanes 1:1). Rasul Petrus juga (I Petrus 5:1).
Dalam organisasi gereja, terdapat juga para pemimpin struktural seperti dalam GPdI. Sifat kepemimpinan dalam organisasi adalah pemimpin atas pimpinan, seperti pimpinan atas gembala-gembala. Dan gembala-gembala sebagai pimpinan jemaat lokal. Karena penetapan pemimpin dalam organisasi menurut konsensus, dipilih dari antara pimpinan (para gembala, pengajar atau penginjil), menurut aturan yang telah disepakati, dan tetap berlandaskan Firman Allah.to be continue..........

No comments: