Wednesday, July 16, 2008

Sekilas perjalanan pelayanan Pendeta Abraham Alex Tanuseputra


Abraham Alex Tanuseputra, Pendeta Gereja Bethany




Layani Tuhan berkat Suara Darah

Abraham Alex Tanuseputra kini tenar sebagai pendeta yang memimpin puluhan ribu jemaat. Perjalanannya sebagai pelayan Tuhan pada sebuah gereja besar telah melalui berbagai titik balik. Salah satunya, ketika dia menabrak seorang anak berumur 11 tahun sekitar 40 tahun silam.

----------

ABRAHAM Alex Tanuseputra masih ingat kejadian pada Oktober 1965. "Saya mengendarai Morris, mobil mini, yang baru saja diperbaiki," katanya. Dia bermaksud menguji kecepatan mobil itu. Sambil menyetir, sesekali dia melihat ke bawah. Sebab, ada bunyi di bagian bawah mobil.

Di luar dugaan, braak.., suara keras mengagetkannya. "Saya baru sadar, ternyata saya sudah menabrak anak kecil," ujarnya. Tubuh anak itu terpelanting ke kaca mobil, terbentur, dan mental. Pada benturan ketiga, anak tersebut jatuh di muka mobil.

Alex yang saat itu berumur 24 tahun kaget bukan kepalang. Dia turun dari mobil dan berteriak kepada orang-orang yang berkerumun di sepanjang Jalan Raya Mojokerto ketika itu. "Minggir, minggir, saya bawa anak itu," kenangnya. Untung, massa tak menghakimi dia. Mereka memberi Alex jalan untuk mengangkat dan membawa anak tersebut ke Rumah Sakit Rekso Waluyo Mojokerto.

Alex melihat darah terus mengalir dari hidung, telinga, dan mulut anak itu. Dokter So Kim Ho dan dokter Tamura dari Jepang tidak berani menjamin anak tersebut selamat. "Saya benar-benar merasakan takut luar biasa," ungkapnya. Apalagi, orang tua anak itu mengancam akan membunuhnya.

Karena takut, Alex lari dan bersembunyi di gereja. "Hati saya berkecamuk, timbul pertanyaan, kalau saya mati bagaimana? Setelah mati, saya masuk mana?" ucapnya. Dalam keadaan seperti itu, Christ da Costa, salah seorang temannya, mengajak berdoa semalaman. Dia berdoa, mengaku dosa, dan minta ampun kepada Tuhan. "Malam itu, saya sadar bahwa keselamatan hidup saya ada di tangan Tuhan," jelas pria kelahiran 1 Juli 1941 tersebut.

Setelah berdoa, tiba-tiba keluar suara dari dalam hatinya, "Hatimu jangan takut dan gelisah, mari datang pada-Ku." Alex menyebut suara itu sebagai "suara darah". Malam itu, dia merasa seperti kembali dilahirkan dan memutuskan menjadi hamba Tuhan atau pendeta.

Setelah menjadi pendeta pada 1970-an, selain berkhotbah saat Minggu, dia harus mengemudikan taksi pada malam hari untuk menopang kehidupan keluarganya. Yeny Oentari, istrinya, membantu lewat usaha membuat bedak telur dan buntil dari daun lumbu. "Itu adalah masa-masa Tuhan membentuk iman keluarga kami," lanjut ayah tiga anak tersebut sambil tersenyum.

Pada 1977, dengan membawa dua koper baju, Alex membawa seluruh keluarganya pindah dari kota kelahirannya, Mojokerto, ke Surabaya. Setahun kemudian, pada 1978 Gereja Bethany Indonesia (GBI) berdiri. Pada tahun yang sama, anak ketiganya yang cacat, Andre Tanuseputra, sembuh. "Tuhan telah membalikkan keadaan kami seperti membalik telapak tangan," tambahnya.

Sejak saat itu, pendeta yang terkenal tegas tersebut semakin moncer. Berawal dari tujuh jemaat yang berkumpul di garasi rumahnya di Jalan Manyar Sindharu, gereja yang dibina Alex kian besar.

Pada 1987, saat gedung Bethany Manyar hampir selesai, Alex diberi karunia untuk kembali membangun gereja yang lebih besar. Akhirnya, pada 2000, dia berhasil merampungkan Graha Bethany Nginden, gereja besar pada tanah seluas 8 hektare di kawasan Nginden Intan. "Itu semua terwujud karena kasih Tuhan, bukan usaha saya," tuturnya merendah.

Kini di usia ke-67, Alex tetap dipercaya menjadi gembala bagi sekitar 70 ribu jemaat. "Visi itu dari Tuhan, saya hanyalah alat-Nya," imbuhnya. "Sekarang, Tuhan memercayakan kepada saya untuk membangun Menara Doa Jakarta," papar kakek delapan cucu tersebut. Lagi-lagi, dia meracik semangat pembangunan itu dengan iman, harapan, dan kasih yang besar untuk Tuhan. Dia percaya, menara yang tahap penyelesaian fondasinya sudah rampung tersebut akan berdiri tegak, setegak imannya kepada Tuhan.
Melayani lewat Poliklinik




"PENGALAMAN adalah guru yang paling baik". Ungkapan itu meluncur dari bibir Abraham Alex Tanuseputra. Sebab, kini dia sedang membangun poliklinik bernama Bethany Care untuk pelengkap pelayanannya kepada Tuhan dan sesama.

"Inspirasi" pembangunan poliklinik itu muncul lantaran Alex dihajar stroke pada Februari 2007. "Tapi, saya bersyukur Tuhan 'mengizinkan' saya sakit waktu itu," katanya lantas tersenyum.

Karena deraan sakit tersebut, keluarga dan jemaatnya bingung. Beberapa pelayanan pun terpaksa dibatalkan. "Saat itu saya tidak tahu apa rencana Tuhan," ujarnya.

Setelah Alex diperiksa di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa dia kena penyumbatan pembuluh darah di dekat jantung. Namun, pada April 2007, kala pemeriksaan terakhir sebelum operasi pemasangan ring, tim dokter menyatakan bahwa Alex sehat seratus persen. Karena itu, pemasangan ring untuk membuka penyumbatan tersebut urung. "Itu karena Tuhan masih ingin saya hidup," kata suami Yeny Oentari tersebut.

Sejak saat itu, pendeta yang masih terlihat sehat dan segar tersebut kembali "diberi visi" untuk membangun poliklinik. Terletak di sebelah Graha Bethany, penyelesaian poliklinik itu kini sedang dalam tahap akhir. "Saya harap dengan poliklinik itu, ada banyak orang yang bisa ditolong," paparnya.

No comments: